Sabtu, 16 April 2016

Akuntansi Internasional : Minggu ke-7, "Pelaporan Keuangan dan Perubahan Harga"



  NAMA                      : RIVALNO
  NPM                         : 26212494
  KELAS                     : 4EB12
  MATA KULIAH     : AKUNTANSI INTERNASIONAL

Bab 7
“Pelaporan Keuangan dan Perubahan Harga”

v  PENGERTIAN PERUBAHAN HARGA

Untuk memahami makna istilah perubahan harga (changing price), harus dibedakan antara pergerakan harga umum dan pergerakan harga spesifik.Dalam perubahan harga dikenal 2 istilah, yaitu :
1.      Pergerakan harga umum Suatu perubahan harga umum terjadi apabila secara rata-rata harga seluruh barang dan jasa dalam suatu perekonomian mengalami perubahan. Kenaikan harga secara keseluruhan disebut inflasi (inflation), sedangkan penurunan harga disebut deflasi (deflation).
Inflasi : Kenaikan harga secara umum.
Penyebab inflasi :
a)      Kebijakan moneter
b)      Kebijakan fiscal
c)      Biaya pemilihan umum yang terlalu besar
d)     Penyebaran inflasi international
Deflasi : Penurunan harga secara umum.

2.      Pergerakan harga spesifik Perubahan harga spesifik mengacu pada perubahan dalam harga barang atau jasa tertentu yang  disebabkan oleh perubahan dalam permintaan dan penawaran. Laju inflasi lokal mempengaruhi kurs valuta asing yang digunakan untuk mentranslasikan saldo-saldo dalam mata uang asing ke dalam nilai ekuivalen dalam mata uang domestic. Selama periode inflasi, nilai aktifa yang dicatat sebesar biaya akuisisi awalnya jaang mencerminkan nilai terkininya (yang lebih tinggi). Nilai aktiva yang dinyatakan lebih rendah menghasilkan beban yang dinilai lebih rendah dan laba yang dinilai lebih tinggi. Laba yang dinilai lebih tinggi pada gilirannya akan menyebabkan :
a)      Kenaikan dalam proporsi pajak.
b)      Permintaan dividen lebih banyak dari pemegang saham.
c)      Permintaan gaji dan upah yang lebih tinggi dari para pekerja.
d)     Tindakan yang merugikan dari Negara tuan rumah (seperti pengenaan pajak keuntungan yang sangat besar).

Kegagalan untuk menyesuaikan data keuangan perusahaan terhadap perubahan dalam daya beli unit moneter juga menimbulkan kesulitan bagi pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan kinerja operasi perusahaan yang dilaporkan. Mengakui pengaruh inflasi secara eksplisit berguna dilakukan karena beberapa alasan :

Pengaruh perubahan harga sebagian bergantung pada transaksi dan keadaan yang dihadapi suatu perusahaan. Para pengguna tidak memiliki informasi yang lengkap mengenai faktor-faktor ini.

Mengelola masalah yang ditimbulkan oleh perubahan harga bergantung pada pemahaman yang akurat atas permasalahan tersebut. Pemahaman yang akurat memerlukan kinerja usaha yang dilaporkan dalam kondisi-kondisi yang memperhitungkan pengaruh perubahan harga.

Laporan dari para manajer mengenai permasalahan yang disebabkan oleh perubahan harga lebih mudah dipercaya apabila kalangan usaha menerbitkan informasi keuangan yang membahas masalah-masalah tersebut.

v  MENGAPA LAPORAN KEUANGAN DI MASA PERUBAHAN HARGA BERPOTENSI MENYESATKAN?

Selama periode inflasi, nilai aktiva yang dicatat sebesar biaya akuisisi awalnya jaang mencerminkan nilai terkininya (yang lebih tinggi). Nilai aktiva yang dinyatakan lebih rendah menghasilkan beban yang dinilai lebih rendah dan laba yang dinilai lebih tinggi. Nilai aktiva yang dinyatakan lebih rendah menghasilkan beban yang dinilai lebih rendah dan laba yang dinilai lebih tinggi. Dari sudut pandang manajemen, ketidakakuratan pengukuran ini mendistorsi:
a)      Proyeksi keuangan berdasarkan waktu historis yang belum disesuaikan.
b)      Anggaran yang menjadi dasar pengukuran kinerja
c)      Data kinerja yang gagal menahan pengaruh inflasi yang tidak terkendali.

Pendapatan yang dibesarkan dapat menimbulkan sebagai berikut:
a)      Kenaikan pajak yang sebanding,
b)      Permintaan deviden yang lebih banyak dari pemegang saham,
c)      Tuntutan kenaikan gaji karyawan, dan
d)     Kebijakan yang merugikan dari pemerintah tuan rumah (misalkan pajak yang dibebankan atas kelebihan laba)

Kegagalan untuk menyesuaikan data keuangan perusahaan terhadap perubahan dalam daya beli unit moneter juga menimbulkan kesulitan bagi pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan kinerja operasi perusahaan yang dilaporkan.
Fungsi  mengakui pengaruh inflasi secara eksplisit yaitu :
a)      Pengaruh perubahan harga sebagian bergantung pada transaksi dan keadaan yang dihadapi suatu perusahaan. Para pengguna tidak memiliki informasi yang lengkap mengenai faktor-faktor ini.
b)      Penanganan masalah yang diakibatkan oleh perubahan harga bergantung pada pemahaman yang akurat atas permasalahan tersebut. Pemahaman yang akurat memerlukan kinerja usaha yang dilaporkan dalam kondisi-kondisi yang memperhitungkan pengaruh perubahan harga.
c)      Pernyataan manajer mengenai permasalahan yang disebabkan oleh perubahan harga lebih mudah dipercaya apabila kalangan usaha menerbitkan informasi keuangan yang membahas masalah-masalah tersebut.


v  JENIS-JENIS PENYESUAIAN INFLASI

       Rangkaian statistik yang bertujuan mengukur perubahan harga umum maupun khusus biasanya tidak berjalan secara bersamaan. Tiap perubahan harga memiliki pengaruh yang berlainan terhadap pengukuran posisi keuangan dan kinerja operasional dari suatu perusahaan dan diterangkan menurut tujuan yang berlainan pula.

PENYESUAIAN TINGKAT-HARGA UMUM

Mata uang konstan biaya historis atau equivalen daya beli umum merupakan jumlah mata uang yang disesuaikan terhadap perubahan tingkat harga umum (daya beli). Jumlah nominal merupakan jumlah mata uang yang belum disesuaikan sedemikian rupa.
Sebagai contoh, selama periode kenaikan harga, aktiva berumur panjang yang dilaporkan didalam neraca sebesar biaya akuisisi awalnya dinyatakan dalam mata uang nominal. Apabila biaya historisnya tersebut dialokasikan terhadap laba periode kini (dalam bentuk beban depresiasi), pendapatan, yang mencerminkan daya beli kini, ditandingkan dengan biaya yang mencerminkan daya beli (yang lebih tinggi) dari periode terdahulu saat aktiva tersebut dibeli. Oleh sebab itu, jumlah nominal harus disesuaikan untuk perubahan dalam daya beli umum uang agar dapat ditandingkan secara tepat dengan transaksi kini.

         INDEKS HARGA
        Angka indeks harga digunakan dalam translasi jumlah uang yang dibayarkan di periode sebelumnya ke dalam setara daya beli di akhir periodenya (yaitu daya beli tetap-biaya historis).

Rumus yang digunakan adalah:
GPLC / GPLtd x Jumlah Nominaltd = PPEC
Keterangan :
GPL   =  Indeks harga umum
c         =  Tahun berjalan
td        =  Tanggal transaksi
PPE    =  Setara daya beli umum

v  PENYESUAIAN BIAYA-KINI

             Perbedaan model biaya kini dengan akuntansi konvensional dalam dua aspek, yaitu:

a)      Aset dinilai pada biaya kininya ketimbang biaya historisnya.
b)      Laba didefinisikan sebagai kekayaan bersih setelah pajak dari perusahaan, yaitu jumlah sumber daya yang dapat didistribusikan perusahaan disuatu periode  (tidak termasuk pertimbangan pajak) sambil tetap mempertahankan kapasitas produksi atau modal fisiknya.

v  BIAYA KINI DISESUAIKAN DENGAN TINGKAT-HARGA UMUM

Opsi pelaporan ketiga yang bertujuan untuk menerangkan perubahan harga ini menggabungkan karakteristik model tingkat-harga umum dan model biaya-kini yang telah dibahas di paragaraf-paragraf terdahulu. Pengukuran ini, yang disebut sebagai model biaya-kini yang disesuaikan dengan tingkat harga, menggunakan indeks harga umum maupun khusus.
            Ciri khas dari model biaya-kini yang disesuaikan dengan tingkat harga adalah pengungkapan perubahan biaya kini dari aset nonmoneter perusahaan setelah dikurangi inflasi. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan bagian perubahan nilai aset non moneter yang melebihi atau kurang dari perubahan daya beli umum.

 Kebijakan akuntansi:
a)      Dasar Penyajian
b)      Komparabilitas
c)      Persediaan
d)     Aset Tetap
e)      Penyusutan
f)       Penyajian ulang ekuitas pemegang saham
g)      Defisit atas penyajian ulang ekuitas pemegang saham
h)      Laba atau rugi dari posisi moneter

v  PENDEKATAN TERHADAP AKUNTANSI INFLASI DI BEBERAPA NEGARA

1.            AMERIKA SERIKAT

Pada tahun 1979, FSAB mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (statement of financial accounting standards-SFAS) No. 33. Berjudul “pelaporan keuangan dan perubahan harga”, pernyataan ini mengharuskan perusahaan-perusahaan AS yang memiliki persediaan dan aktiva tetap.
Banyak pengguna dan penyusun informasi keuangan yang telah sesuai dengan SFAS No.33 mengemukakan bahwa :
1)      Pengungkapan ganda yang diwajibkan oleh FASB membingungkan.
2)      Biaya untuk penyusunan pengungkapan ganda ini terlalu besar.
3)      Pengungkapan daya beli konstan biaya historis tidak terlalu bermanfaat bila dibandingkan data biaya kini.

Di AS Perusahaan pelapor disarankan untuk mengungkapkan informasi berikut tiap lima tahun terakhir:
o   Penjualan bersih dan pendapatan operasional lain
o   Laba operasional berkelanjutan berdasarkan biaya-kini
o   Daya beli laba atau rugi (moneter) atas pos-pos moneter bersih
o   Peningkatan atau penurunan biaya kini atau jumlah yang dapat dipulihkan yang lebih rendah
o   Semua penyesuaian translasi gabungan mata uang asing, berdasarkan biaya-kini
o   Aset bersih di akhir tahun berdasarkan biaya-kini
o   Pendapatan per saham
o   Dividen per saham dari saham biasa
o   Harga pasar per saham dari saham biasa
o   Harga pasar per saham dari saham biasa di akhir tahun
o   Tingkat Indeks Harga Konsumen (CPI) yang digunakan untuk mengukur laba dari operasional berkelanjutan

2.            INGGRIS

Komite Standar Akuntansi Inggris (Accounting Standard Commitee-ASC) menerbitkan Pernyataan Standard Praktik Akuntansi 16 (Statement Of Standard Accounting Practice-SSAP 16). Perbedaan SSAP 16 dengan SFAS 33 yaitu :
1)      Apabila standar AS mengharuskan akuntansi dolar konstan dan biaya kini, SSAP 16 mengadopsi hanya metode biaya kini untuk pelaporan eksternal.
2)      Apabila penyesuaian inflasi AS berpusat pad laporan laba rugi, laporan biaya kini di Inggris mewajibkan baik laporan laba rugi dan neraca biaya kini, beserta pencatatan penjelasan.


Standar Inggris memberikan tiga pilihan dalam pelaporan:
1)      Menyajikan akun-akun biaya kini sebagai laporan dasar dengan dilengkapi akun-akun biaya historis.
2)      Menyajikan akun-akun biaya historis sebagai laporan dasar dengan dilengkapi akun-akun biaya kini.
3)      Menyajikan akun-akun biaya kini saja dengan dilengkapi akun-akun biaya historis seperlunya.

3.            BRASIL

Pelaporan akuntansi inflasi yang dianjurkan di Brazil, yaitu sesuai:
1)      Undang-Undang Perusahaan Brasil, dan
2)      Komisi Sekuritas dan Bursa Brasil

v  INTERNATIONAL ACCOUNTING STANDARD BOARDS (IASB)

IASB telah menyimpulkan bahwa laporan posisi keuangan dan kinerja operasi dalam mata uang lokal menjadi tidak berarti lagi dalam suatu lingkungan yang mengalami hiperinflasi. Secara khusus laporan keuangan suatu perusahaan yang melakukan pelaporan dalam mata uang perekonomian hiperinflasi, apakah didasarkan pada kerangka penilaian biaya historis atau biaya kini, harus disajikan ulang sesuai dengan daya beli konstan pada tanggal neraca. Aturan ini juga berlaku untuk angka terkait dalam periode sebelumnya. Keuntungan atau kerugian daya beli yang terkait dengan posisi kewajiban atau aktiva moneter bersih dimasukan kedalam laba kini. Perusahaan yang melakukan pelaporan juga harus mengungkapkan :
a.       Fakta bahwa penyajian ulang untuk perubahan dalam daya beli unit pengukuran telah dilakukan.
b.      Kerangka dasar penilaian aktiva yang digunakan dalam laporan keuangan utama yaitu penilaian biaya historis atau biaya kini.
c.       Identitas dan tingkat indeks harga pada tanggal neraca, beserta dengan perubahannya selama periode pelaporan.
d.      Laba atau rugi moneter bersih tahun berjalan.

v  HAL-HAL TERKAIT INFLASI

o   Laba dan Rugi Inflasi
o   Laba dan Rugi Modal (Kepemilikan)
o   Inflasi Asing (Luar Negeri)







DAFTAR PUSTAKA :
Choi, Frederick D. S, Meek, Gary K, 2010, Akuntansi Internasional, Buku 2, Edisi keenam, Jakarta;Salemba Empat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar