NAMA :
RIVALNO
NPM :
26212494
KELAS :
4EB12
MATA KULIAH :
AKUNTANSI INTERNASIONAL
Bab 7
“Pelaporan Keuangan dan Perubahan Harga”
“Pelaporan Keuangan dan Perubahan Harga”
v PENGERTIAN PERUBAHAN HARGA
Untuk memahami makna istilah perubahan harga (changing
price), harus dibedakan antara pergerakan harga umum dan pergerakan harga
spesifik.Dalam perubahan harga dikenal 2 istilah, yaitu :
1.
Pergerakan harga umum Suatu perubahan harga umum
terjadi apabila secara rata-rata harga seluruh barang dan jasa dalam suatu
perekonomian mengalami perubahan. Kenaikan harga secara keseluruhan disebut
inflasi (inflation), sedangkan penurunan harga disebut deflasi (deflation).
Inflasi : Kenaikan harga secara
umum.
Penyebab inflasi :
a)
Kebijakan moneter
b)
Kebijakan fiscal
c)
Biaya pemilihan umum yang terlalu besar
d)
Penyebaran inflasi international
Deflasi : Penurunan harga secara
umum.
2.
Pergerakan harga spesifik Perubahan harga spesifik
mengacu pada perubahan dalam harga barang atau jasa tertentu yang disebabkan oleh perubahan dalam permintaan
dan penawaran. Laju inflasi lokal mempengaruhi kurs valuta asing yang digunakan
untuk mentranslasikan saldo-saldo dalam mata uang asing ke dalam nilai
ekuivalen dalam mata uang domestic. Selama periode inflasi, nilai aktifa yang
dicatat sebesar biaya akuisisi awalnya jaang mencerminkan nilai terkininya
(yang lebih tinggi). Nilai aktiva yang dinyatakan lebih rendah menghasilkan
beban yang dinilai lebih rendah dan laba yang dinilai lebih tinggi. Laba yang
dinilai lebih tinggi pada gilirannya akan menyebabkan :
a)
Kenaikan dalam proporsi pajak.
b)
Permintaan dividen lebih banyak dari pemegang saham.
c)
Permintaan gaji dan upah yang lebih tinggi dari para
pekerja.
d)
Tindakan yang merugikan dari Negara tuan rumah
(seperti pengenaan pajak keuntungan yang sangat besar).
Kegagalan untuk menyesuaikan data keuangan perusahaan terhadap
perubahan dalam daya beli unit moneter juga menimbulkan kesulitan bagi pembaca
laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan kinerja operasi
perusahaan yang dilaporkan. Mengakui pengaruh inflasi secara eksplisit berguna
dilakukan karena beberapa alasan :
Pengaruh
perubahan harga sebagian bergantung pada transaksi dan keadaan yang dihadapi
suatu perusahaan. Para pengguna tidak memiliki informasi yang lengkap mengenai
faktor-faktor ini.
Mengelola
masalah yang ditimbulkan oleh perubahan harga bergantung pada pemahaman yang
akurat atas permasalahan tersebut. Pemahaman yang akurat memerlukan kinerja
usaha yang dilaporkan dalam kondisi-kondisi yang memperhitungkan pengaruh
perubahan harga.
Laporan dari
para manajer mengenai permasalahan yang disebabkan oleh perubahan harga lebih
mudah dipercaya apabila kalangan usaha menerbitkan informasi keuangan yang
membahas masalah-masalah tersebut.
v MENGAPA LAPORAN KEUANGAN DI MASA PERUBAHAN HARGA
BERPOTENSI MENYESATKAN?
Selama periode inflasi, nilai
aktiva yang dicatat sebesar biaya akuisisi awalnya jaang mencerminkan nilai
terkininya (yang lebih tinggi). Nilai aktiva yang dinyatakan lebih rendah
menghasilkan beban yang dinilai lebih rendah dan laba yang dinilai lebih
tinggi. Nilai aktiva yang dinyatakan lebih rendah menghasilkan beban yang
dinilai lebih rendah dan laba yang dinilai lebih tinggi. Dari sudut pandang
manajemen, ketidakakuratan pengukuran ini mendistorsi:
a)
Proyeksi keuangan berdasarkan
waktu historis yang belum disesuaikan.
b)
Anggaran yang menjadi dasar
pengukuran kinerja
c)
Data kinerja yang gagal
menahan pengaruh inflasi yang tidak terkendali.
Pendapatan
yang dibesarkan dapat menimbulkan sebagai berikut:
a)
Kenaikan pajak yang sebanding,
b)
Permintaan deviden yang lebih banyak dari pemegang
saham,
c)
Tuntutan kenaikan gaji karyawan, dan
d)
Kebijakan yang merugikan dari pemerintah tuan rumah
(misalkan pajak yang dibebankan atas kelebihan laba)
Kegagalan
untuk menyesuaikan data keuangan perusahaan terhadap perubahan dalam daya beli
unit moneter juga menimbulkan kesulitan bagi pembaca laporan keuangan untuk
menginterpretasikan dan membandingkan kinerja operasi perusahaan yang
dilaporkan.
Fungsi mengakui
pengaruh inflasi secara eksplisit yaitu :
a)
Pengaruh perubahan harga
sebagian bergantung pada transaksi dan keadaan yang dihadapi suatu perusahaan.
Para pengguna tidak memiliki informasi yang lengkap mengenai faktor-faktor ini.
b)
Penanganan masalah yang
diakibatkan oleh perubahan harga bergantung pada pemahaman yang akurat atas
permasalahan tersebut. Pemahaman yang akurat memerlukan kinerja usaha yang
dilaporkan dalam kondisi-kondisi yang memperhitungkan pengaruh perubahan harga.
c)
Pernyataan manajer mengenai
permasalahan yang disebabkan oleh perubahan harga lebih mudah dipercaya apabila
kalangan usaha menerbitkan informasi keuangan yang membahas masalah-masalah
tersebut.
v JENIS-JENIS PENYESUAIAN INFLASI
Rangkaian statistik yang bertujuan mengukur
perubahan harga umum maupun khusus biasanya tidak berjalan secara bersamaan.
Tiap perubahan harga memiliki pengaruh yang berlainan terhadap pengukuran
posisi keuangan dan kinerja operasional dari suatu perusahaan dan diterangkan
menurut tujuan yang berlainan pula.
PENYESUAIAN TINGKAT-HARGA UMUM
Mata uang konstan biaya historis atau equivalen daya
beli umum merupakan jumlah mata uang yang disesuaikan terhadap perubahan
tingkat harga umum (daya beli). Jumlah nominal merupakan jumlah mata uang yang
belum disesuaikan sedemikian rupa.
Sebagai contoh, selama periode kenaikan harga, aktiva
berumur panjang yang dilaporkan didalam neraca sebesar biaya akuisisi awalnya
dinyatakan dalam mata uang nominal. Apabila biaya historisnya tersebut
dialokasikan terhadap laba periode kini (dalam bentuk beban depresiasi),
pendapatan, yang mencerminkan daya beli kini, ditandingkan dengan biaya yang
mencerminkan daya beli (yang lebih tinggi) dari periode terdahulu saat aktiva
tersebut dibeli. Oleh sebab itu, jumlah nominal harus disesuaikan untuk
perubahan dalam daya beli umum uang agar dapat ditandingkan secara tepat dengan
transaksi kini.
INDEKS HARGA
Angka indeks harga digunakan dalam
translasi jumlah uang yang dibayarkan di periode sebelumnya ke dalam setara
daya beli di akhir periodenya (yaitu daya beli tetap-biaya historis).
Rumus yang
digunakan adalah:
GPLC / GPLtd
x Jumlah Nominaltd = PPEC
Keterangan :
GPL =
Indeks harga umum
c =
Tahun berjalan
td =
Tanggal transaksi
PPE =
Setara daya beli umum
v PENYESUAIAN BIAYA-KINI
Perbedaan model biaya kini dengan akuntansi
konvensional dalam dua aspek, yaitu:
a)
Aset dinilai pada biaya kininya ketimbang biaya
historisnya.
b)
Laba didefinisikan sebagai kekayaan bersih setelah
pajak dari perusahaan, yaitu jumlah sumber daya yang dapat didistribusikan
perusahaan disuatu periode (tidak
termasuk pertimbangan pajak) sambil tetap mempertahankan kapasitas produksi
atau modal fisiknya.
v BIAYA KINI DISESUAIKAN DENGAN TINGKAT-HARGA UMUM
Opsi pelaporan ketiga yang bertujuan untuk menerangkan
perubahan harga ini menggabungkan karakteristik model tingkat-harga umum dan
model biaya-kini yang telah dibahas di paragaraf-paragraf terdahulu. Pengukuran
ini, yang disebut sebagai model biaya-kini yang disesuaikan dengan tingkat
harga, menggunakan indeks harga umum maupun khusus.
Ciri khas dari model biaya-kini yang disesuaikan dengan tingkat harga adalah
pengungkapan perubahan biaya kini dari aset nonmoneter perusahaan setelah
dikurangi inflasi. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan bagian perubahan nilai
aset non moneter yang melebihi atau kurang dari perubahan daya beli umum.
Kebijakan akuntansi:
a)
Dasar Penyajian
b)
Komparabilitas
c)
Persediaan
d)
Aset Tetap
e)
Penyusutan
f)
Penyajian ulang ekuitas pemegang saham
g)
Defisit atas penyajian ulang ekuitas pemegang saham
h)
Laba atau rugi dari posisi moneter
v PENDEKATAN TERHADAP AKUNTANSI INFLASI DI BEBERAPA
NEGARA
1.
AMERIKA SERIKAT
Pada tahun 1979, FSAB mengeluarkan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (statement of financial accounting
standards-SFAS) No. 33. Berjudul “pelaporan keuangan dan perubahan harga”,
pernyataan ini mengharuskan perusahaan-perusahaan AS yang memiliki persediaan
dan aktiva tetap.
Banyak pengguna dan penyusun informasi keuangan yang
telah sesuai dengan SFAS No.33 mengemukakan bahwa :
1) Pengungkapan
ganda yang diwajibkan oleh FASB membingungkan.
2) Biaya untuk
penyusunan pengungkapan ganda ini terlalu besar.
3) Pengungkapan
daya beli konstan biaya historis tidak terlalu bermanfaat bila dibandingkan
data biaya kini.
Di AS Perusahaan
pelapor disarankan untuk mengungkapkan informasi berikut tiap lima tahun
terakhir:
o Penjualan
bersih dan pendapatan operasional lain
o Laba
operasional berkelanjutan berdasarkan biaya-kini
o Daya beli
laba atau rugi (moneter) atas pos-pos moneter bersih
o Peningkatan
atau penurunan biaya kini atau jumlah yang dapat dipulihkan yang lebih rendah
o Semua
penyesuaian translasi gabungan mata uang asing, berdasarkan biaya-kini
o Aset bersih
di akhir tahun berdasarkan biaya-kini
o Pendapatan
per saham
o Dividen per
saham dari saham biasa
o Harga pasar
per saham dari saham biasa
o Harga pasar
per saham dari saham biasa di akhir tahun
o Tingkat Indeks
Harga Konsumen (CPI) yang digunakan untuk mengukur laba dari operasional
berkelanjutan
2.
INGGRIS
Komite Standar Akuntansi Inggris
(Accounting Standard Commitee-ASC) menerbitkan Pernyataan Standard Praktik
Akuntansi 16 (Statement Of Standard Accounting Practice-SSAP 16). Perbedaan
SSAP 16 dengan SFAS 33 yaitu :
1) Apabila
standar AS mengharuskan akuntansi dolar konstan dan biaya kini, SSAP 16
mengadopsi hanya metode biaya kini untuk pelaporan eksternal.
2) Apabila
penyesuaian inflasi AS berpusat pad laporan laba rugi, laporan biaya kini di
Inggris mewajibkan baik laporan laba rugi dan neraca biaya kini, beserta
pencatatan penjelasan.
Standar Inggris memberikan tiga pilihan dalam
pelaporan:
1)
Menyajikan akun-akun biaya kini sebagai laporan dasar
dengan dilengkapi akun-akun biaya historis.
2)
Menyajikan akun-akun biaya historis sebagai laporan
dasar dengan dilengkapi akun-akun biaya kini.
3)
Menyajikan akun-akun biaya kini saja dengan dilengkapi
akun-akun biaya historis seperlunya.
3.
BRASIL
Pelaporan akuntansi inflasi yang dianjurkan di Brazil,
yaitu sesuai:
1)
Undang-Undang Perusahaan Brasil, dan
2)
Komisi Sekuritas dan Bursa Brasil
v INTERNATIONAL ACCOUNTING STANDARD BOARDS (IASB)
IASB telah menyimpulkan bahwa
laporan posisi keuangan dan kinerja operasi dalam mata uang lokal menjadi tidak
berarti lagi dalam suatu lingkungan yang mengalami hiperinflasi. Secara khusus
laporan keuangan suatu perusahaan yang melakukan pelaporan dalam mata uang
perekonomian hiperinflasi, apakah didasarkan pada kerangka penilaian biaya
historis atau biaya kini, harus disajikan ulang sesuai dengan daya beli konstan
pada tanggal neraca. Aturan ini juga berlaku untuk angka terkait dalam periode
sebelumnya. Keuntungan atau kerugian daya beli yang terkait dengan posisi
kewajiban atau aktiva moneter bersih dimasukan kedalam laba kini. Perusahaan
yang melakukan pelaporan juga harus mengungkapkan :
a.
Fakta bahwa penyajian ulang untuk perubahan dalam daya
beli unit pengukuran telah dilakukan.
b.
Kerangka dasar penilaian aktiva yang digunakan dalam laporan
keuangan utama yaitu penilaian biaya historis atau biaya kini.
c.
Identitas dan tingkat indeks harga pada tanggal
neraca, beserta dengan perubahannya selama periode pelaporan.
d.
Laba atau rugi moneter bersih tahun berjalan.
v HAL-HAL TERKAIT INFLASI
o Laba dan
Rugi Inflasi
o Laba dan
Rugi Modal (Kepemilikan)
o Inflasi
Asing (Luar Negeri)
DAFTAR
PUSTAKA :
Choi, Frederick D. S, Meek, Gary K, 2010, Akuntansi
Internasional, Buku 2, Edisi keenam, Jakarta;Salemba Empat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar